BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Taman Sari adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton
Yogyakarta. Kebun ini dibangun pada
zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman
ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa
gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan
beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif
antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton
sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari
yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.
Konon,
Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang
didirikan oleh Susuhunan Paku buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang
akan pergi ke Imogiri (http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta).
Pada tahun 1976 Taman Sari sudah tidak digunakan lagi
dan sudah beralih fungsi sebagai daerah tujuan wisata yang dibuka untuk umum.
Hal ini disebabkan karena Taman Sari mengalami kerusakan akibat gempa bumi.
Kini Taman Sari sudah menjadi daerah tujuan wisata yang dikenal banyak orang.
Pengunjungnya kini tidak hanya wisatawan domestik saja, namun kini sudah banyak
wisatawan mancanegara yang mengunjungi daerah tujuan wisata ini.
Seiring dengan berkembangnya Taman Sari yang kini
banyak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai wilayah, pasti menimbulkan suatu
fenomena sosiologis bagi masyarakat
setempat. Oleh karena itulah kami membahas tentang fenomena sosiologis
yang terjadi di masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Sari.
B. Rumusan Masalah
a. Bagaimana
dampak sosial budaya dari adanya daerah tujuan wisata Taman Sari bagi masyarakat setempat?
b. Bagaimana
interaksi sosial yang ada di daerah tujuan wisata Taman Sari, baik antarpedagang, antarmasyarakat, maupun antara
pengunjung dengan masyarakat setempat?
c. Perubahan
sosial apa saja yang sudah terjadi di Taman Sari?
C. Tujuan Penulisan
a. Untuk
mengetahui dampak sosial budaya dari adanya daerah tujuan wisata Taman Sari
bagi masyarakat setempat
b. Untuk
mengetahui interaksi sosial yang ada di daerah tujuan wisata Taman Sari,
baik antarpedagang, antarmasyarakat,
maupun antara pengunjung dengan masyarakat setempat
c. Untuk
mengetahui perubahan sosial yang sudah terjadi di Taman Sari.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Landasan Teori
a.
Pengertian dan Perkembangan Sosiologi Pariwisata
Pariwisata adalah
fenoma kemasyarakatan, yang menyangkut manusia, masyarakat, kelompok,
organisasi, kebudayaan, dan sebagainya, yang merupakan kajian objek sosiologi.
Namun demikian kajian sosiologi belum begitu lama dilakukan terhadap
pariwisata, meskipun pariwisata sudah mempunyai sejarah yang sangat panjang.
Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa pariwisata pada awalnya lebih dipanjang
sebagai kegiatan kegiatan ekonomi, dan tujuan utama pengembangan pariwisata
adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, baik bagi masyarakat maupun daerah
(negara).
Karena pariwisata
manyangkut manusia dan masyarakat, maka pariwisata sangat sesuai untuk
dijadikan objek kajian sosiologi. Berkembanglah kemudian kajian-kajian
sosiologi tentang pariwisata, yang lebih lanjut menjadi cabang sosiologi
tersendiri, yang disebut sosiologi pariwisata. Secara singkat, sosiologi
pariwisata adalah cabang dari sosiologi yang mengkaji masalah-masalah
kepariwisataan dalam berbagai aspeknya. Dapat juga dikatakan bahwa sosiologi
pariwisata adalah kajian tentang kepariwisataan dengan perspektif sosiologi,
yaitu penerapan prinsip, konsep, hukum, paradigma dan metode sosiologis di
dalam mengkaji masyarakat dan fenomena. Secara sosiologis, John Unry (1990) dalam
sosiologi pariwisata (2005: 46) menyebutkan bahwa pariwisata mempunyai
ciri-ciri seperti di bawah ini:
1. Pariwisata
adalah aktivitas bersantai atau beraktivitas waktu luang. Perjalanan wisata
bukanlah suatu kewajiban dan umumnya dilakukan pada saat seseorang bebas dari
pekerjaan yang wajib dilakukan, yaitu pada saat mereka cuti atau libur.
2. Hubungan-hubungan
pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia. Pergerakan ini terkait
denganm dimensi ruang dan waktu. Gerakan dan kunjungan yang bersifat sementara
atau (transitory) mempunyai sifat yang berbeda dengan perpindahan pendudukan
secara permanen.
3. Dilihat
dari sisi wisatawan pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan
waktu yang tidak normal. Tetapi ketidaknormalan ini bersifat sementara dan
pelaku mempunyai keinginan yang pasti untuk kembali ke situasi normal atau ke
habitat asalnya.
4. Tempat
dan atraksi di nikmati oleh wisatawan (the tourist gaze) adalah tempat dan atau
peristiwa yang tidak langsung berhubungan dngan pekerjaan atau penghidupan
wisatawan.
5. Cukup
banyak proporsi dari penduduk masyarakat modern terlibat dalam keiatan
pariwisata, sehinga pariwisata telah menjadi wahana sosioalisasi baru.
6. Destinasi
wisata yang di kunjungi seringkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi
atau karena citra (image) destinasi yang bersangkutan.
7. Perjalanan
wisata adalah sesuatu yang bersifat tidak biasa. Walaupun diharapkan adalah
pengalamn yang lain dari biasanya atau sesuatu yang baru.kualitas perjalanan
wisata salah satunya ditentukan oleh kuantitas dan kualitas pengalaman baru
ini.
8. Peranan
simbol dan penanda (signs) sangat besar dalam keberhasilan sebuah destinasi
wisata. Simbol dan penanda ini sangat terkait dengan citra, seperti misalnya
the exotic bali, the romantic paris, dan the virgin pacific.
9. Setiap
destinasi wisata selalu mengalami pembaharuan dan penambahan produk-produk
baru, yang umumnya dilakukan oleh para profesional (kalangan usaha pariwisata).
Begitu luasnya
aspek-aspek yang termasuk dalam pariwisata, menyebabkan begitu bnyaknya hal-hal
yang memerlukan kajian sosiologis. Dari banyaknya aspek yang dapat dikaji,
Cohen (1984) dalam sosiologi pariwisata (2005: 50) mengelompokannya dalam 4
wilayah kajian yaitu :
a. Wisatawan
b. Hubungan
antara wisatawan dengan masyarakat lokal
c. Struktur
dan fungsi sistem pariwista, dan
d. Dampak-dampak
pariwisata
b.
Interaksi Sosial
Interaksi sosial
merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan
orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang
peorangan dan kelompok manusia. Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial
antara lain:
a.
Adanya kontak sosial
Secara
fisik, kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniyah. Sebagai gejala
sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniyah, karena orang dapat
mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, seperti misalnya
dengan cara berbicara dengan pihak lain tersebut. Apabila dengan perkembangan
teknologi dewasa ini, oramg-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya
melalui telepon, telegraf, radio, surat, dan seturusnya, yang tidak memerlukan
hubungan badaniyah.
b. Adanya
komunikasi
Arti
penting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku
orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap),
perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. orang yang
bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin
disampaikan oleh orang lain tersebut.
Proses-proses interaksi
yang pokok adalah sebagai berikut.
a)
Proses-proses yang asosiatif
Ø Kerja
sama (coorperation)
Kerja sama disini
dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok
manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Ø Akomodasi
Menurut Gillin dan
Gillin akomodasi adalh suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk
menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya
dengan pengertian adaptasi yang dipergunakan oleh ahliu-ahli biologi untuk
menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya
dengan alam sekitarnya. Bentuk-bentuk akomodasi
·
Coersion adalah suatu bentuk akomodasi
yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.
·
Compromise adalah suatu bentuk akomodasi
yang dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar
tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
·
Arbritation adalah suatu cara untuk
mencapai cimpromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup
mencapainya sendiri.
·
Mediation hampir menyerupai arbritation,
pada mediation diundang pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang
ada.
·
Concilitation adalah suatu usaha untuk
mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak yang berselisih demi tercapainya
suatu persetujuan bersama.
·
Toleration merupakan suatu bentuk
akomodasi tanpa persetujuan yang fornal bentuknya.
·
Stalemate merupakan suatu akomodasi
dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang
berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
·
Adjudication yaitu penyelesaian perkara
atau sengketa di pengandilan.
b)
Proses-proses disosiatif
Ø Persaingan
adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang
bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu
masa tertentu menjadi pusat perhatian umum( baik perseorangan maupun kelompok
manusia ) dengan cara menarik perhatian publik atu dengan mempertajam prasangka
yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atu kekerasan.
Ø Kontrvensi
merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan
pertentangan atau pertikaian. Kontroversi terutama ditandai oleh gejala-gejala
adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu wacana dan perasaan
tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keraguan-keraguan terhadap
kepribadian seseorang atau perasaan tersebut dapat pula berkembang terhadap
kemungkinan, kegunaan, keharusan, atau penilaian terhadap suatu usul, buah
pikiran, kepercayaan, doktrin atau rencana yang dikemukakan orang-orang
perorangan atau kelompok manusia lain.
Ø Pertentangan
(pertikaian atau konflik)
Sebab-sebab munculnya konflik
adalah, perbedaan antarindividu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan,
dan perubahan sosial.
c.
Perubahan
Sosial
Perubahan
sosial menurut Gillin dan Gillin dalam sosiologi suatu pengantar (2007: 263)
adalah perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup
yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis,
kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi
ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
B.
Kajian Teori
a.
Teori Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme
simbolik pada hakekatnya merupakan perspektif yang bersifat sosial
psikologi.Tokoh dari teori ini adalah Blumer, Mead dan Erfing Goffman yang
manganut teori interaksionisme Max Weber. Interaksionisme simbolik memfokuskan
diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan
hubungan sosial. Interaksionisme simbolik menekankan pada dua hal yaitu manusia
dalam masyarakat tidak pernah lepas dari interaksi dan interaksi masyarakat
mewujud dalam simbol-simbol tertentu yang bersifat dinamis.
b. Teori Dorongan Berprestasi (Virus N-ach)
Teori
dorongan berprestasi dikemukakan oleh David McCleland. McCleland adalah seorang
ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai
pendorong utama perubahan. Tesis dasar McCleland adalah bahwa “masyarakat yang
tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan
wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan
ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang dilambangkan dengan
n-Ach atau need for Achievment adalah salah satu dasar kebutuhan manusia, dan
sama dengan motif-motif lainnya, kebutuhan untuk berprestasi ini adalah hasil
dari pengalaman sosial sejak kanak-kanak.
c. Teori Interaksi
Salah satu tokoh sosiologi yang
membahas tentang interaksi adalah Georg Simmel. Ia memandang bahwa interaksi
itu memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Simmel juga melihat bahwa
salah satu tugas sosiologi adalah memahami interaksi antar individu. Salah satu
teori yang dikemukakan oleh simmel dan
masih terkait dengan interaksi adalah Teori Simmel mengenai ‘masyarakat
sebagai proses interaksi’. Menurut Pandangannya, masyarakat
dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya
diam. Menurut Simmel dalam interaksi tidak memementingkan berapa
jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Jadi, melalui
interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling
mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di daerah
tujuan wisata Taman Sari, Daerah Istimewa Yogyakarta.
B.
Waktu penelitian
Penelitian
terhadap fenomena sosiologis di daerah tujuan wisata Taman Sari dilakukan pada
3 Oktober 2013.
C. Subyek Penelitian
Subyek
penelitian ini adalah masyarakat sekitar dan pedagang di Taman Sari.
D.
Teknik Pengumpulan Data
1.
Teknik pengumpulan data yang dilakukan
adalah menggunakan metode wawancara, adalah
percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak,
yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas
pertanyaan itu.
2.
Studi kepustakaan, Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh
peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang
akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku dan
sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik.
BAB
IV
ANALISIS
HASIL PENELITIAN
Analisis hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini
adalah uraian data yang diperoleh melalui beberapa hasil wawancara dari
narasumber ditambah dengan penjelasan yang berasal dari studi
kepustakaan.
A.
Pembahasan
a.
Dampak
Sosial Budaya dari Adanya Daerah Tujuan Wisata Taman Sari bagi Masyarakat
Setempat
Taman Sari
sebagai salah satu daerah wisata di DIY merupakan tempat wisata yang cukup
diminati oleh pengunjung. Hal itu bisa dibuktikan dengan selalu adanya
pengunjung setiap hari. Pengunjungnya pun tidak hanya wisatawan domestic namun
banyak juga wisatawan dari mancanegara yang mengunjungi Taman Sari.
Adanya suatu
perubahan fungsi Taman Sari yang dulunya sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri,
selain itu juga digunakan untuk tempat pemandian putri raja dan sekarang
berubah menjadi tempat wisata untuk umum pasti menimbulkan dampak bagi
masyarakat setempat. Dampak yang paling menonjol antara lain:
a)
Dampak Ekonomi
Dampak ekonomi bagi masyarakat setempat
dengan adanya daerah tujuan wisata Taman Sari sangat terlihat jelas. Dengan
adanya daerah tujuan wisata ini masyarakat setempat sangat diuntungkan,
sebagian besar masyarakat di sekitar Taman Sari memanfaatkan ke-eksistensian
daerah tujuan wisata tersebut dengan berjualan makanan, minuman, batik, wayang,
dan lainnya. Mayoritas masyarakat setempat merupakan pengrajin batik dan wayang
kulit. Batik dan wayang tersebut merupakan buatan tangan, sehingga menambah
nilai seni. Hal itu memang mereka lakukan agar lebih menarik para pembeli
meskipun harga jualnya lebih mahal. Hasil kerajinan tersebut biasanya di
pamerkan di rumah mereka sensdiri, namun ada juga yang dijual ke luar kota
seperti Bali dan Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri seperti Swiss.
Hampir setiap hari Taman Sari tidak
pernah sepi dari wisatawan, hal ini selain menjadi bukti ke-eksistensian Taman
Sari sebagai tempat wisata budaya yang diminati para wisatawan juga menjadi
suatu keuntungan tersendiri bagi masyarakat setempat dan masyarakat pendatang
yang berjualan di sekitar Taman Sari.
“Jika kita
mengacu pada peraturan yang berlaku sebenarnya berjualan di sekitar area Taman
Sari itu tidak diperbolehkan karena Taman Sari merupakan salah satu cagar
budaya, namun karena alasan kemanusiaan, maka para penjual itu masih kami
izinkan untuk berjualan disini”. Tutur salah satu guide di Taman Sari.
b)
Dampak Sosial
Seiring dengan banyaknya wisatawan yang
mengunjungi Taman Sari mambuat masyarakat setempat mau ataupun tidak mau harus
membuka diri, artinya mereka harus siap menerima kedatangan pengunjung dengan
tangan terbuka.
Wisatawan yang datang ke Taman Sari
sangatlah heterogen, mulai dari yang local sampai mancanegara. Tujuan dari
kedatangan mereka pun beragam, ada yang hanya sekedar untuk wisata, belajar,
sampai riset.
Dampak sosial yang paling mencolok bagi
masyarakat setempat dapat kita lihat dari interaksi mereka. Kebiasaan dari
masyarakat Jawa yang biasanya menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi, kini
ereka dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan tidak semua
wisatawan mengerti bahasa Jawa. Terlebih lagi jika ada wisatawan yang berasal
dari luar negeri. Yang menjadi tantangan masyarakat setempat adalah bagaimana
mereka harus bisa memahami bahasa mereka, dan akhirnya jika masyarakat tersebut
tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris maka mereka pun harus
berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Terlebih lagi kini banyak wisatawan
asing yang tinggal di rumah-rumah masyarakat setempat untuk melakukan riset
tentang Taman Sari. Hal itu secara otomatis pasti membawa dampak sosial bagi
masyarakat setempat khususnya dalam hal berinteraksi.
c)
Dampak budaya
Budaya merupakan salah satu aset yang
penting bagi suatu negra. Dengan adanya budaya itulah suatu Negara mempunyai
ciri khas yang mungkin tidak dimiliki oleh Negara lain. Begitu juga dengan
bangsa Indonesia, melalui beberapa hasil kebudayaannya yaitu batik dan wayang
maka Indonesia menjadi Bangsa yang spesial di mata dunia, karena batik dan
wayang hanya dimiliki oleh Indonesia. Melalui batik dan wayang pula lah
masyarakat di sekitar Taman Sari mencoba untuk meestarikan sekaligus
memperkenalkan aset negeri ini.
Seiring dengan semakin banyaknya
wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Taman Sari membuat masyarakat setempat lebih semangat
untuk memperkenalkan batik dan wayang khas Indonesia. dan ternyata hal ini
mendapat sambutan hangat dari para wisatawan. Banyak diantara mereka yang
tertarik dengan batik dan wayang, sehingga hal ini memberikan dampak yang
positif bagi budaya lokal, karena selain mereka lebih mengenal budaya kita,
kita pun menjadi semakin bangga karena ternyata wisatawan asing pun menyukai
budaya kita.
b.
Interaksi
Sosial yang Ada Di Daerah Tujuan Wisata Taman Sari, baik Antarpedagang, Antarmasyarakat, maupun Antara
Pengunjung dengan Masyarakat Setempat
Interaksi
sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan
orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang
peorangan dan kelompok manusia. Sebagai masyarakat yang berada di sekitar
daerah tujuan wisata membuat interaksi diantara mereka semakin kompleks, karena
warga setempat tidak hanya melakukan interaksi antarwarga saja, namun mereka
juga melakukan interaksi dengan para pengunjung. Proses interaksi yang terjadi
pun ada yang bersifat asosiatif, berupa kerjasama (coorperation) kerja sama
disini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau
kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bukti dari
adanya kerjasama antarwarga adalah ketika ada pameran batik, meskipun kerjasama
ini tidak melibatkan seluruh warga setempat. Selain proses interaksi yang
asosiatif di masyarakat sekitar Taman Sari juga terjadi proses interaksi yang
disosiatif, yaitu persaingan.
Persaingan
adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang
bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu
masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok
manusia) dengan cara menarik perhatian publik atu dengan mempertajam prasangka
yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Hal ini biasanya
terjadi antarwarga yang mempunyai pekerjaan yang sama, seperti sama-sama jualan
makanan.
Berdasarkan pada penuturan salah satu guide di Taman
Sari, di tempat tersebut jarang sekali terjadi konflik yang tajam terutama
antara masyarakat lokal dengan wisatawan asing. Meskipun banyak wisatawan asing
yang datang ke Taman Sari dan mereka menggunakan bahasa Inggris dimana tidak
semua warga setempat mengerti bahasa Inggris, namun hal itu tidak menyebabkan
terjadinya konflik yang disebabkan tidak mengertinya bahasa dari masing-masing
pihak. Jika diantara mereka tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa dari
masing-masing pihak biasanya mereka
hanya menggunakan bahasa isyarat. Hal ini bisa dianalisis menggunakan salah
satu teori dalam sosiologi yaitu interaksionisme simbolik. Interaksionisme
simbolik menekankan pada dua hal yaitu manusia dalam masyarakat tidak pernah
lepas dari interaksi dan interaksi masyarakat mewujud dalam simbol-simbol
tertentu yang bersifat dinamis. Simbol disini bisa kita lihat ketika wisatawan
asing hanya menunjuk kea arah tertentu dan itu bisa dimengerti oleh masyarakat
setempat bahwa wisatawan tersebut ingin menuju ke tempat yang ia tunjuk.
c.
Perubahan
Sosial yang Terjadi di Taman Sari
Perubahan sosial
menurut Gillin dan Gillin dalam sosiologi suatu pengantar (2007: 263) adalah
perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang
telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan
materiil, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun
penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
Perubahan-perubahan
yang telah terjadi di Taman Sari adalah:
Aspek
|
Dahulu
|
Sekarang
|
Fungsi
|
Sebagai
tempat istirahat kereta
kuda yang akan pergi ke Imogiri, selain itu juga digunakan untuk tempat
pemandian putri raja. Dahulu Taman Sari tidak terbuka untuk umum.
|
Sebagai
tempat wisata. Sekarang Taman Sari sudah terbuka untuk umum.
|
Bangunan
|
Masih
asli, belum ada renovasi.
|
Sudah
direnovasi, sehingga keaslian bangunannya tidak seperti dulu.
|
Dengan adanya
berbagai perubahan di Taman Sari hal itu tidak lepas dari peran warga sekitar.
Menurut penuturan salah satu guide di Taman Sari, jika ada wacana yang
mengatakan akan diadakannya perbaikan di Taman Sari demi semakin majunya daerah
tujuan wisata tersebut maka masyarakat setempat sangat berantusias dan setuju
dengan hal itu. Ini menunjukkan bahwa adanya suatu dukungan yang luar biasa
dari masyarakat setempat. Hal ini dapat dikaitkan dengan Teori Dorongan Berprestasi (Virus N-ach) dari David Mc
Cleland. Mc Cleland
adalah seorang ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian
sebagai pendorong utama perubahan. Tesis dasar Mc Cleland adalah bahwa
“masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan
menghasilkan wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan
perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang
dilambangkan dengan N-Ach atau Need for Achievment adalah salah satu dasar
kebutuhan manusia.
Dapat disimpulkan bahwa di masyarakat sekitar Taman Sari
memiliki dorongan berprestasi yang sangat tinggi demi kemajuan daerah mereka.
BAB
V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Taman Sari sebagai
salah satu daerah wisata di DIY merupakan tempat wisata yang cukup diminati
oleh pengunjung. Hal itu bisa dibuktikan dengan selalu adanya pengunjung setiap
hari. Pengunjungnya pun tidak hanya wisatawan domestic namun banyak juga wisatawan
dari mancanegara yang mengunjungi Taman Sari. Adanya suatu perubahan fungsi
Taman Sari yang dulunya sebagai tempat istirahat
kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri, selain itu juga digunakan untuk tempat
pemandian putri raja dan sekarang berubah menjadi tempat wisata untuk umum
pasti menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat. Dampak yang paling menonjol
antara lain: dampak ekonomi, dampak sosial, dan dampak budaya.
Proses interaksi
sosial yang ada di masyarakat sekitar Taman Sari adalah proses asosiatif berupa
kerjasama (coorperation) dan disosiatif yang berupa persaingan.
Taman Sari yang
sekarang sudah berbeda dengan Taman Sari yang dulu, sudah terjadi perubahan di
berbagai aspek, antara lain di aspek fungsi dan bangunannya. Perubahan yang
terjadi di Taman Sari ini sangat dipengaruhi oleh peran dari masyarakat
setempat. Karena tingginya motivasi dari masyarakat setempat untuk memajukan
Taman Sari, kini daerah tujuan wisata itu pun telah mengalami kemajuan yang
luar biasa. Motivasi dari masyarakat ini bisa dikaji menggunakan Teori Dorongan
Berprestasi (Virus N-Ach) dari David Mc Cleland.
B. Saran
1. Demi
kemajuan daerah tujuan wisata Taman Sari, hendaknya keramahan dari masyarakat
setempat tetap dijaga.
2. Meskipun
Taman Sari kini sudah terkenal, namun masyarakat setempat harus tetap
mempromosikan keindahan Taman Sari, terutama ke dunia Internasional.
3. Pengunjung
Taman Sari seharusnya tidak merusak apapun yang ada di tempat tersebut
(termasuk mencoret-coret tembok), karena itu merupakan salah satu cagar budaya
yang harus dijaga.
LAMPIRAN
A. Daftar Pertanyaan
1. Bagaimana
interaksi antara masyarakat setempat dengan para wisatawan yang datang ke Taman
Sari?
2. Apakah
pernah terjadi suatu perselisihan ataupun konflik disini? Baik antar
pedagang, pengunjung, maupun masyarakat
setempat?
3. Perubahan
apa saja yang sudah terjadi di Taman Sari ini?
4. Mengapa
perubahan tersebut dilakukan?
5. Peran
apa saja yang sudah dilakukan oleh masyarakat setempat untuk memajukan Taman
Sari ini?
6. Bagaimana
respon masyarakat ketika ada wacana yang mengatakan bahwa di Taman Sari ini
akan dilakukan perbaikan? Apakah mereka antusias atau cuek?
7.
Uang masuk dari pengunjung digunakan untuk apa?
8.
Bagaimana pengelolaannya?
9. Dengan
adanya daerah tujuan wisata ini dampak apa yang ditimbulkan bagi masyarakat
setempat?
10. Pernah
atau tidak pengunjung disini melalkukan hal-hal yang tidak baik?
11. Jika
pernah, apa saja?
12. Upaya
apa yang telah dilakukan masyarakat untuk mengurangi terjadi hal tersebut?
13. Dampak
ekonomi apa yang ditimbulkan dengan adanya daerah tujuan wisata ini bagi masyarakat setempat?
14. Dampak
sosial budaya apa yang ditimbulkan dengan adanya daerah tujuan wisata ini bagi
masyarakat setempat?
B.
Gambar
DAFTAR PUSTAKA
Soekanto,
Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar.
Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pitana,
I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi
Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Nama penulis. Tahun. Judul. http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta
diaksespada 4 Oktober 2013.