Rabu, 15 Januari 2014

SOSIOLOGI PARIWISATA (Taman Sari)

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Taman Sari adalah situs bekas taman atau kebun istana Keraton Yogyakarta.  Kebun ini dibangun pada zaman Sultan Hamengku Buwono I (HB I) pada tahun 1758-1765/9. Awalnya, taman ini memiliki luas lebih dari 10 hektare dengan sekitar 57 bangunan baik berupa gedung, kolam pemandian, jembatan gantung, kanal air, maupun danau buatan beserta pulau buatan dan lorong bawah air. Kebun yang digunakan secara efektif antara 1765-1812 ini pada mulanya membentang dari barat daya kompleks Kedhaton sampai tenggara kompleks Magangan. Namun saat ini, sisa-sisa bagian Taman Sari yang dapat dilihat hanyalah yang berada di barat daya kompleks Kedhaton saja.
Konon, Taman Sari dibangun di bekas keraton lama, Pesanggrahan Garjitawati, yang didirikan oleh Susuhunan Paku buwono II sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri (http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta).
Pada tahun 1976 Taman Sari sudah tidak digunakan lagi dan sudah beralih fungsi sebagai daerah tujuan wisata yang dibuka untuk umum. Hal ini disebabkan karena Taman Sari mengalami kerusakan akibat gempa bumi. Kini Taman Sari sudah menjadi daerah tujuan wisata yang dikenal banyak orang. Pengunjungnya kini tidak hanya wisatawan domestik saja, namun kini sudah banyak wisatawan mancanegara yang mengunjungi daerah tujuan wisata ini.
Seiring dengan berkembangnya Taman Sari yang kini banyak dikunjungi oleh wisatawan dari berbagai wilayah, pasti menimbulkan suatu fenomena sosiologis bagi masyarakat  setempat. Oleh karena itulah kami membahas tentang fenomena sosiologis yang terjadi di masyarakat yang tinggal di sekitar Taman Sari.

B.  Rumusan Masalah
a.    Bagaimana dampak sosial budaya dari adanya daerah tujuan wisata Taman Sari bagi   masyarakat setempat?
b.   Bagaimana interaksi sosial yang ada di daerah tujuan wisata Taman Sari, baik  antarpedagang, antarmasyarakat, maupun antara pengunjung dengan masyarakat setempat?
c.    Perubahan sosial apa saja yang sudah terjadi di Taman Sari?


C. Tujuan Penulisan
a.    Untuk mengetahui dampak sosial budaya dari adanya daerah tujuan wisata Taman Sari bagi   masyarakat setempat
b.   Untuk mengetahui interaksi sosial yang ada di daerah tujuan wisata Taman Sari, baik  antarpedagang, antarmasyarakat, maupun antara pengunjung dengan masyarakat setempat
c.    Untuk mengetahui perubahan sosial yang sudah terjadi di Taman Sari.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
a. Pengertian dan Perkembangan Sosiologi Pariwisata
Pariwisata adalah fenoma kemasyarakatan, yang menyangkut manusia, masyarakat, kelompok, organisasi, kebudayaan, dan sebagainya, yang merupakan kajian objek sosiologi. Namun demikian kajian sosiologi belum begitu lama dilakukan terhadap pariwisata, meskipun pariwisata sudah mempunyai sejarah yang sangat panjang. Hal ini terkait dengan kenyataan bahwa pariwisata pada awalnya lebih dipanjang sebagai kegiatan kegiatan ekonomi, dan tujuan utama pengembangan pariwisata adalah untuk mendapatkan keuntungan ekonomi, baik bagi masyarakat maupun daerah (negara).
Karena pariwisata manyangkut manusia dan masyarakat, maka pariwisata sangat sesuai untuk dijadikan objek kajian sosiologi. Berkembanglah kemudian kajian-kajian sosiologi tentang pariwisata, yang lebih lanjut menjadi cabang sosiologi tersendiri, yang disebut sosiologi pariwisata. Secara singkat, sosiologi pariwisata adalah cabang dari sosiologi yang mengkaji masalah-masalah kepariwisataan dalam berbagai aspeknya. Dapat juga dikatakan bahwa sosiologi pariwisata adalah kajian tentang kepariwisataan dengan perspektif sosiologi, yaitu penerapan prinsip, konsep, hukum, paradigma dan metode sosiologis di dalam mengkaji masyarakat dan fenomena. Secara sosiologis, John Unry (1990) dalam sosiologi pariwisata (2005: 46) menyebutkan bahwa pariwisata mempunyai ciri-ciri seperti di bawah ini:
1.   Pariwisata adalah aktivitas bersantai atau beraktivitas waktu luang. Perjalanan wisata bukanlah suatu kewajiban dan umumnya dilakukan pada saat seseorang bebas dari pekerjaan yang wajib dilakukan, yaitu pada saat mereka cuti atau libur.
2.   Hubungan-hubungan pariwisata terjadi karena adanya pergerakan manusia. Pergerakan ini terkait denganm dimensi ruang dan waktu. Gerakan dan kunjungan yang bersifat sementara atau (transitory) mempunyai sifat yang berbeda dengan perpindahan pendudukan secara permanen.
3.   Dilihat dari sisi wisatawan pariwisata adalah aktivitas yang dilakukan pada tempat dan waktu yang tidak normal. Tetapi ketidaknormalan ini bersifat sementara dan pelaku mempunyai keinginan yang pasti untuk kembali ke situasi normal atau ke habitat asalnya.
4.   Tempat dan atraksi di nikmati oleh wisatawan (the tourist gaze) adalah tempat dan atau peristiwa yang tidak langsung berhubungan dngan pekerjaan atau penghidupan wisatawan.
5.   Cukup banyak proporsi dari penduduk masyarakat modern terlibat dalam keiatan pariwisata, sehinga pariwisata telah menjadi wahana sosioalisasi baru.
6.   Destinasi wisata yang di kunjungi seringkali dipilih berdasarkan khayalan atau fantasi atau karena citra (image) destinasi yang bersangkutan.
7.   Perjalanan wisata adalah sesuatu yang bersifat tidak biasa. Walaupun diharapkan adalah pengalamn yang lain dari biasanya atau sesuatu yang baru.kualitas perjalanan wisata salah satunya ditentukan oleh kuantitas dan kualitas pengalaman baru ini.
8.   Peranan simbol dan penanda (signs) sangat besar dalam keberhasilan sebuah destinasi wisata. Simbol dan penanda ini sangat terkait dengan citra, seperti misalnya the exotic bali, the romantic paris, dan the virgin pacific.
9.   Setiap destinasi wisata selalu mengalami pembaharuan dan penambahan produk-produk baru, yang umumnya dilakukan oleh para profesional (kalangan usaha pariwisata).
Begitu luasnya aspek-aspek yang termasuk dalam pariwisata, menyebabkan begitu bnyaknya hal-hal yang memerlukan kajian sosiologis. Dari banyaknya aspek yang dapat dikaji, Cohen (1984) dalam sosiologi pariwisata (2005: 50) mengelompokannya dalam 4 wilayah kajian yaitu :
a.    Wisatawan
b.   Hubungan antara wisatawan dengan masyarakat lokal
c.    Struktur dan fungsi sistem pariwista, dan
d.   Dampak-dampak pariwisata

b.  Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang peorangan dan kelompok manusia. Syarat-syarat terjadinya interaksi sosial antara lain:
a.    Adanya kontak sosial
Secara fisik, kontak baru terjadi apabila terjadi hubungan badaniyah. Sebagai gejala sosial itu tidak perlu berarti suatu hubungan badaniyah, karena orang dapat mengadakan hubungan dengan pihak lain tanpa menyentuhnya, seperti misalnya dengan cara berbicara dengan pihak lain tersebut. Apabila dengan perkembangan teknologi dewasa ini, oramg-orang dapat berhubungan satu dengan yang lainnya melalui telepon, telegraf, radio, surat, dan seturusnya, yang tidak memerlukan hubungan badaniyah.
b.   Adanya komunikasi
Arti penting komunikasi adalah bahwa seseorang memberikan tafsiran pada perilaku orang lain (yang berwujud pembicaraan, gerak-gerak badaniah atau sikap), perasaan-perasaan apa yang ingin disampaikan oleh orang tersebut. orang yang bersangkutan kemudian memberikan reaksi terhadap perasaan yang ingin disampaikan oleh orang lain tersebut.
Proses-proses interaksi yang pokok adalah sebagai berikut.
a)   Proses-proses yang asosiatif
Ø  Kerja sama (coorperation)
Kerja sama disini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama.
Ø  Akomodasi
Menurut Gillin dan Gillin akomodasi adalh suatu pengertian yang digunakan oleh para sosiolog untuk menggambarkan suatu proses dalam hubungan-hubungan sosial yang sama artinya dengan pengertian adaptasi yang dipergunakan oleh ahliu-ahli biologi untuk menunjuk pada suatu proses dimana makhluk-makhluk hidup menyesuaikan dirinya dengan alam sekitarnya. Bentuk-bentuk akomodasi
·         Coersion adalah suatu bentuk akomodasi yang prosesnya dilaksanakan oleh karena adanya paksaan.
·         Compromise adalah suatu bentuk akomodasi yang dimana pihak-pihak yang terlibat saling mengurangi tuntutannya agar tercapai suatu penyelesaian terhadap perselisihan yang ada.
·         Arbritation adalah suatu cara untuk mencapai cimpromise apabila pihak-pihak yang berhadapan tidak sanggup mencapainya sendiri.
·         Mediation hampir menyerupai arbritation, pada mediation diundang pihak ketiga yang netral dalam soal perselisihan yang ada.
·         Concilitation adalah suatu usaha untuk mempertemukan keinginan-keinginan dari pihak yang berselisih demi tercapainya suatu persetujuan bersama.
·         Toleration merupakan suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan yang fornal bentuknya.
·         Stalemate merupakan suatu akomodasi dimana pihak-pihak yang bertentangan karena mempunyai kekuatan yang seimbang berhenti pada suatu titik tertentu dalam melakukan pertentangannya.
·         Adjudication yaitu penyelesaian perkara atau sengketa di pengandilan.
b)   Proses-proses disosiatif
Ø Persaingan adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum( baik perseorangan maupun kelompok manusia ) dengan cara menarik perhatian publik atu dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atu kekerasan.
Ø Kontrvensi merupakan suatu bentuk proses sosial yang berada antara persaingan dan pertentangan atau pertikaian. Kontroversi terutama ditandai oleh gejala-gejala adanya ketidakpastian mengenai diri seseorang atau suatu wacana dan perasaan tidak suka yang disembunyikan, kebencian, atau keraguan-keraguan terhadap kepribadian seseorang atau perasaan tersebut dapat pula berkembang terhadap kemungkinan, kegunaan, keharusan, atau penilaian terhadap suatu usul, buah pikiran, kepercayaan, doktrin atau rencana yang dikemukakan orang-orang perorangan atau kelompok manusia lain.
Ø Pertentangan (pertikaian atau konflik)
Sebab-sebab munculnya konflik adalah, perbedaan antarindividu, perbedaan kebudayaan, perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial.

c.       Perubahan Sosial
Perubahan sosial menurut Gillin dan Gillin dalam sosiologi suatu pengantar (2007: 263) adalah perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.




B. Kajian Teori
a.  Teori Interaksionisme Simbolik
Interaksionisme simbolik pada hakekatnya merupakan perspektif yang bersifat sosial psikologi.Tokoh dari teori ini adalah Blumer, Mead dan Erfing Goffman yang manganut teori interaksionisme Max Weber. Interaksionisme simbolik memfokuskan diri pada hakekat interaksi, pada pola-pola dinamis dari tindakan sosial dan hubungan sosial. Interaksionisme simbolik menekankan pada dua hal yaitu manusia dalam masyarakat tidak pernah lepas dari interaksi dan interaksi masyarakat mewujud dalam simbol-simbol tertentu yang bersifat dinamis.
b.  Teori Dorongan Berprestasi (Virus N-ach)
Teori dorongan berprestasi dikemukakan oleh David McCleland. McCleland adalah seorang ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan. Tesis dasar McCleland adalah bahwa “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang dilambangkan dengan n-Ach atau need for Achievment adalah salah satu dasar kebutuhan manusia, dan sama dengan motif-motif lainnya, kebutuhan untuk berprestasi ini adalah hasil dari pengalaman sosial sejak kanak-kanak.
c. Teori Interaksi
Salah satu tokoh sosiologi yang membahas tentang interaksi adalah Georg Simmel. Ia memandang bahwa interaksi itu memiliki peran yang penting dalam kehidupan. Simmel juga melihat bahwa salah satu tugas sosiologi adalah memahami interaksi antar individu. Salah satu teori yang dikemukakan oleh simmel dan masih terkait dengan interaksi adalah Teori Simmel mengenai masyarakat sebagai proses interaksi. Menurut Pandangannya, masyarakat dapat terbentuk karena adanya interaksi, bukan adanya kelompok orang yang hanya diam. Menurut Simmel dalam interaksi tidak memementingkan berapa jumlah orang yang berinteraksi, yang penting adalah adanya interaksi. Jadi, melalui interaksi timbal balik, dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi, maka masyarakat itu akan muncul.



BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi Penelitian
            Penelitian ini dilaksanakan di daerah tujuan wisata Taman Sari, Daerah Istimewa Yogyakarta.
B. Waktu penelitian
            Penelitian terhadap fenomena sosiologis di daerah tujuan wisata Taman Sari dilakukan pada 3 Oktober 2013.
C. Subyek Penelitian
Subyek penelitian ini adalah masyarakat sekitar dan pedagang di Taman Sari.
D. Teknik Pengumpulan Data
1.      Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah menggunakan metode wawancara, adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.
2.      Studi kepustakaan, Studi kepustakaan adalah segala usaha yang dilakukan oleh peneliti untuk menghimpun informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang akan atau sedang diteliti. Informasi itu dapat diperoleh dari buku-buku dan sumber-sumber tertulis baik tercetak maupun elektronik.









BAB IV
ANALISIS HASIL PENELITIAN

Analisis hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini adalah uraian data yang diperoleh melalui beberapa hasil wawancara dari narasumber ditambah dengan penjelasan yang berasal dari studi kepustakaan.
A. Pembahasan
a.   Dampak Sosial Budaya dari Adanya Daerah Tujuan Wisata Taman Sari bagi    Masyarakat Setempat
Taman Sari sebagai salah satu daerah wisata di DIY merupakan tempat wisata yang cukup diminati oleh pengunjung. Hal itu bisa dibuktikan dengan selalu adanya pengunjung setiap hari. Pengunjungnya pun tidak hanya wisatawan domestic namun banyak juga wisatawan dari mancanegara yang mengunjungi Taman Sari.
Adanya suatu perubahan fungsi Taman Sari yang dulunya sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri, selain itu juga digunakan untuk tempat pemandian putri raja dan sekarang berubah menjadi tempat wisata untuk umum pasti menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat. Dampak yang paling menonjol antara lain:
a)      Dampak Ekonomi
         Dampak ekonomi bagi masyarakat setempat dengan adanya daerah tujuan wisata Taman Sari sangat terlihat jelas. Dengan adanya daerah tujuan wisata ini masyarakat setempat sangat diuntungkan, sebagian besar masyarakat di sekitar Taman Sari memanfaatkan ke-eksistensian daerah tujuan wisata tersebut dengan berjualan makanan, minuman, batik, wayang, dan lainnya. Mayoritas masyarakat setempat merupakan pengrajin batik dan wayang kulit. Batik dan wayang tersebut merupakan buatan tangan, sehingga menambah nilai seni. Hal itu memang mereka lakukan agar lebih menarik para pembeli meskipun harga jualnya lebih mahal. Hasil kerajinan tersebut biasanya di pamerkan di rumah mereka sensdiri, namun ada juga yang dijual ke luar kota seperti Bali dan Jakarta, bahkan sampai ke luar negeri seperti Swiss.
         Hampir setiap hari Taman Sari tidak pernah sepi dari wisatawan, hal ini selain menjadi bukti ke-eksistensian Taman Sari sebagai tempat wisata budaya yang diminati para wisatawan juga menjadi suatu keuntungan tersendiri bagi masyarakat setempat dan masyarakat pendatang yang berjualan di sekitar Taman Sari.
“Jika kita mengacu pada peraturan yang berlaku sebenarnya berjualan di sekitar area Taman Sari itu tidak diperbolehkan karena Taman Sari merupakan salah satu cagar budaya, namun karena alasan kemanusiaan, maka para penjual itu masih kami izinkan untuk berjualan disini”. Tutur salah satu guide di Taman Sari.
b)      Dampak Sosial
         Seiring dengan banyaknya wisatawan yang mengunjungi Taman Sari mambuat masyarakat setempat mau ataupun tidak mau harus membuka diri, artinya mereka harus siap menerima kedatangan pengunjung dengan tangan terbuka.
         Wisatawan yang datang ke Taman Sari sangatlah heterogen, mulai dari yang local sampai mancanegara. Tujuan dari kedatangan mereka pun beragam, ada yang hanya sekedar untuk wisata, belajar, sampai riset.
         Dampak sosial yang paling mencolok bagi masyarakat setempat dapat kita lihat dari interaksi mereka. Kebiasaan dari masyarakat Jawa yang biasanya menggunakan bahasa Jawa dalam berkomunikasi, kini ereka dituntut untuk menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan tidak semua wisatawan mengerti bahasa Jawa. Terlebih lagi jika ada wisatawan yang berasal dari luar negeri. Yang menjadi tantangan masyarakat setempat adalah bagaimana mereka harus bisa memahami bahasa mereka, dan akhirnya jika masyarakat tersebut tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris maka mereka pun harus berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Terlebih lagi kini banyak wisatawan asing yang tinggal di rumah-rumah masyarakat setempat untuk melakukan riset tentang Taman Sari. Hal itu secara otomatis pasti membawa dampak sosial bagi masyarakat setempat khususnya dalam hal berinteraksi.
c)      Dampak budaya
         Budaya merupakan salah satu aset yang penting bagi suatu negra. Dengan adanya budaya itulah suatu Negara mempunyai ciri khas yang mungkin tidak dimiliki oleh Negara lain. Begitu juga dengan bangsa Indonesia, melalui beberapa hasil kebudayaannya yaitu batik dan wayang maka Indonesia menjadi Bangsa yang spesial di mata dunia, karena batik dan wayang hanya dimiliki oleh Indonesia. Melalui batik dan wayang pula lah masyarakat di sekitar Taman Sari mencoba untuk meestarikan sekaligus memperkenalkan aset negeri ini.
         Seiring dengan semakin banyaknya wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang datang ke Taman Sari  membuat masyarakat setempat lebih semangat untuk memperkenalkan batik dan wayang khas Indonesia. dan ternyata hal ini mendapat sambutan hangat dari para wisatawan. Banyak diantara mereka yang tertarik dengan batik dan wayang, sehingga hal ini memberikan dampak yang positif bagi budaya lokal, karena selain mereka lebih mengenal budaya kita, kita pun menjadi semakin bangga karena ternyata wisatawan asing pun menyukai budaya kita.

b.      Interaksi Sosial yang Ada Di Daerah Tujuan Wisata Taman Sari, baik  Antarpedagang, Antarmasyarakat, maupun Antara Pengunjung dengan Masyarakat Setempat
Interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan orang-orang perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang peorangan dan kelompok manusia. Sebagai masyarakat yang berada di sekitar daerah tujuan wisata membuat interaksi diantara mereka semakin kompleks, karena warga setempat tidak hanya melakukan interaksi antarwarga saja, namun mereka juga melakukan interaksi dengan para pengunjung. Proses interaksi yang terjadi pun ada yang bersifat asosiatif, berupa kerjasama (coorperation) kerja sama disini dimaksudkan sebagai suatu usaha bersama antara orang perorangan atau kelompok manusia untuk mencapai satu atau beberapa tujuan bersama. Bukti dari adanya kerjasama antarwarga adalah ketika ada pameran batik, meskipun kerjasama ini tidak melibatkan seluruh warga setempat. Selain proses interaksi yang asosiatif di masyarakat sekitar Taman Sari juga terjadi proses interaksi yang disosiatif, yaitu persaingan.
Persaingan adalah suatu proses sosial dimana individu atau kelompok-kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan melalui bidang-bidang kehidupan yang pada suatu masa tertentu menjadi pusat perhatian umum (baik perseorangan maupun kelompok manusia) dengan cara menarik perhatian publik atu dengan mempertajam prasangka yang telah ada tanpa mempergunakan ancaman atau kekerasan. Hal ini biasanya terjadi antarwarga yang mempunyai pekerjaan yang sama, seperti sama-sama jualan makanan.
Berdasarkan pada penuturan salah satu guide di Taman Sari, di tempat tersebut jarang sekali terjadi konflik yang tajam terutama antara masyarakat lokal dengan wisatawan asing. Meskipun banyak wisatawan asing yang datang ke Taman Sari dan mereka menggunakan bahasa Inggris dimana tidak semua warga setempat mengerti bahasa Inggris, namun hal itu tidak menyebabkan terjadinya konflik yang disebabkan tidak mengertinya bahasa dari masing-masing pihak. Jika diantara mereka tidak bisa berkomunikasi menggunakan bahasa dari masing-masing pihak  biasanya mereka hanya menggunakan bahasa isyarat. Hal ini bisa dianalisis menggunakan salah satu teori dalam sosiologi yaitu interaksionisme simbolik. Interaksionisme simbolik menekankan pada dua hal yaitu manusia dalam masyarakat tidak pernah lepas dari interaksi dan interaksi masyarakat mewujud dalam simbol-simbol tertentu yang bersifat dinamis. Simbol disini bisa kita lihat ketika wisatawan asing hanya menunjuk kea arah tertentu dan itu bisa dimengerti oleh masyarakat setempat bahwa wisatawan tersebut ingin menuju ke tempat yang ia tunjuk.

c.       Perubahan Sosial yang Terjadi di Taman Sari
Perubahan sosial menurut Gillin dan Gillin dalam sosiologi suatu pengantar (2007: 263) adalah perubahan-perubahan sosial sebagai suatu variasi dari cara-cara hidup yang telah diterima, baik karena perubahan-perubahan kondisi geografis, kebudayaan materiil, komposisi penduduk, ideology maupun karena adanya difusi ataupun penemuan-penemuan baru dalam masyarakat.
Perubahan-perubahan yang telah terjadi di Taman Sari adalah:
Aspek
Dahulu
Sekarang
Fungsi
Sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri, selain itu juga digunakan untuk tempat pemandian putri raja. Dahulu Taman Sari tidak terbuka untuk umum.

Sebagai tempat wisata. Sekarang Taman Sari sudah terbuka untuk umum.
Bangunan
Masih asli, belum ada renovasi.
Sudah direnovasi, sehingga keaslian bangunannya tidak seperti dulu.

Dengan adanya berbagai perubahan di Taman Sari hal itu tidak lepas dari peran warga sekitar. Menurut penuturan salah satu guide di Taman Sari, jika ada wacana yang mengatakan akan diadakannya perbaikan di Taman Sari demi semakin majunya daerah tujuan wisata tersebut maka masyarakat setempat sangat berantusias dan setuju dengan hal itu. Ini menunjukkan bahwa adanya suatu dukungan yang luar biasa dari masyarakat setempat. Hal ini dapat dikaitkan dengan Teori Dorongan  Berprestasi (Virus N-ach) dari David Mc Cleland. Mc Cleland adalah seorang ahli psikologi sosial yang memusatkan perhatian pada kepribadian sebagai pendorong utama perubahan. Tesis dasar Mc Cleland adalah bahwa “masyarakat yang tinggi tingkat kebutuhan untuk berprestasinya, umumnya akan menghasilkan wiraswastaan yang lebih bersemangat dan selanjutnya menghasilkan perkembangan ekonomi yang lebih cepat. Kebutuhan untuk berprestasi yang dilambangkan dengan N-Ach atau Need for Achievment adalah salah satu dasar kebutuhan manusia.
Dapat disimpulkan bahwa di masyarakat sekitar Taman Sari memiliki dorongan berprestasi yang sangat tinggi demi kemajuan daerah mereka.












BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
  Taman Sari sebagai salah satu daerah wisata di DIY merupakan tempat wisata yang cukup diminati oleh pengunjung. Hal itu bisa dibuktikan dengan selalu adanya pengunjung setiap hari. Pengunjungnya pun tidak hanya wisatawan domestic namun banyak juga wisatawan dari mancanegara yang mengunjungi Taman Sari. Adanya suatu perubahan fungsi Taman Sari yang dulunya sebagai tempat istirahat kereta kuda yang akan pergi ke Imogiri, selain itu juga digunakan untuk tempat pemandian putri raja dan sekarang berubah menjadi tempat wisata untuk umum pasti menimbulkan dampak bagi masyarakat setempat. Dampak yang paling menonjol antara lain: dampak ekonomi, dampak sosial, dan dampak budaya.
Proses interaksi sosial yang ada di masyarakat sekitar Taman Sari adalah proses asosiatif berupa kerjasama (coorperation) dan disosiatif yang berupa persaingan.
Taman Sari yang sekarang sudah berbeda dengan Taman Sari yang dulu, sudah terjadi perubahan di berbagai aspek, antara lain di aspek fungsi dan bangunannya. Perubahan yang terjadi di Taman Sari ini sangat dipengaruhi oleh peran dari masyarakat setempat. Karena tingginya motivasi dari masyarakat setempat untuk memajukan Taman Sari, kini daerah tujuan wisata itu pun telah mengalami kemajuan yang luar biasa. Motivasi dari masyarakat ini bisa dikaji menggunakan Teori Dorongan Berprestasi (Virus N-Ach) dari David Mc Cleland.

B. Saran
1.   Demi kemajuan daerah tujuan wisata Taman Sari, hendaknya keramahan dari masyarakat setempat tetap dijaga.
2.   Meskipun Taman Sari kini sudah terkenal, namun masyarakat setempat harus tetap mempromosikan keindahan Taman Sari, terutama ke dunia Internasional.
3.   Pengunjung Taman Sari seharusnya tidak merusak apapun yang ada di tempat tersebut (termasuk mencoret-coret tembok), karena itu merupakan salah satu cagar budaya yang harus dijaga.




LAMPIRAN

A. Daftar Pertanyaan
1.   Bagaimana interaksi antara masyarakat setempat dengan para wisatawan yang datang ke Taman Sari?
2.   Apakah pernah terjadi suatu perselisihan ataupun konflik disini? Baik antar pedagang,  pengunjung, maupun masyarakat setempat?
3.   Perubahan apa saja yang sudah terjadi di Taman Sari ini?
4.   Mengapa perubahan tersebut dilakukan?
5.   Peran apa saja yang sudah dilakukan oleh masyarakat setempat untuk memajukan Taman Sari ini?
6.   Bagaimana respon masyarakat ketika ada wacana yang mengatakan bahwa di Taman Sari ini akan dilakukan perbaikan? Apakah mereka antusias atau cuek?
7. Uang masuk dari pengunjung digunakan untuk apa?
8. Bagaimana pengelolaannya?
9.   Dengan adanya daerah tujuan wisata ini dampak apa yang ditimbulkan bagi masyarakat setempat?
10.  Pernah atau tidak pengunjung disini melalkukan hal-hal yang tidak baik?
11.  Jika pernah, apa saja?
12.  Upaya apa yang telah dilakukan masyarakat untuk mengurangi terjadi hal tersebut?
13.  Dampak ekonomi apa yang ditimbulkan dengan adanya daerah tujuan wisata ini bagi  masyarakat setempat?
14.  Dampak sosial budaya apa yang ditimbulkan dengan adanya daerah tujuan wisata ini bagi masyarakat setempat?

B. Gambar

 Gambar 1. Pengunjung di Taman Sari

 Gambar 2. Wawancara dengan guide di Taman Sari

 Gambar 3. Wawancara dengan guide di Taman Sari

 Gambar 4. Wawancara dengan salah satu pedagang di Taman Sari
 Gambar 5. Wisatawan Mancanegara di Taman Sari

 Gambar 6. Daerah Tujuan Wisata Taman Sari





























DAFTAR PUSTAKA

Soekanto, Soerjono. 2007. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Pitana, I Gde dan Putu G. Gayatri. 2005. Sosiologi Pariwisata. Yogyakarta: Andi.
Nama penulis. Tahun. Judul.  http://id.wikipedia.org/wiki/Taman_Sari_Yogyakarta diaksespada 4 Oktober 2013.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar